jump to navigation

Mobil Hancur, Budi Djatmiko Selamat dari Kecelakaan Maut Juli 10, 2008

Posted by n4nachiby in Kumpulan Berita.
Tags:
trackback

Langsung Jalan karena Yang Terjepit Cuma Sepatu

Seperti mukjizat, salah seorang korban kecelakaan truk yang remnya blong hingga mengakibatkan enam korban tewas di Purwodadi, Pasuruan, Jatim, selamat. Korban tak mengalami luka serius. Hanya lecet dan sedikit kerenggangan sendi. Padahal, mobil yang dikendarainya hancur tak berbentuk.

SATRIA EKO PUTRO, Sidoarjo

MOBILNYA ringsek tak terbentuk karena kecelakaan di Purwodadi, Senin lalu (7/7). Tapi, Budi Djatmiko kemarin sudah bisa santai di rumah. Saat Jawa Pos bertandang ke rumahnya di kawasan Perumahan Mutiara Citra Asri, Candi, Sidoarjo, tadi malam, dia sedang menerima tamu, tetangganya dari blok yang sama.

“Mari Mas, silakan masuk,” kata pria berusia 46 tahun itu seraya berdiri dari tempat duduk setelah menutup pembicaraan lewat HP. Budi terlihat sehat. Hanya tangan dan kaki yang luka lecet. Mengenakan hem abu-abu berkerah model shanghai dan celana pendek selutut, saat itu dia ditemani istrinya, Ida Indriani, 46. Budi tak sedikit pun menunjukkan tanda baru saja mengalami trauma.

Ya, mobil yang ada di foto ini memang mobil saya. Mobil yang saya naiki,” ujarnya sambil menunjuk foto mobil ringsek yang terpampang di halaman 16 Jawa Pos terbitan Selasa kemarin (8/7).

Pengawas ketenagakerjaan di Bagian Pengawasan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Jatim itu bersyukur bisa selamat dari kecelakaan maut yang nyaris merenggut nyawanya di Jl Raya Purwodadi Km 64, Kabupaten Pasuruan, sekitar pukul 11.30.

Jika melihat foto itu, siapa pun pasti mengira pengendaranya tewas dengan tubuh luluh lantak seperti bodi mobil. Nyatanya, Budi tetap segar bugar. Tak ada sedikit pun tulangnya yang patah. “Retak saja juga tidak. Hanya persendian bahu kiri saya yang sedikit renggang. Tadi sudah saya rontgen-kan,” tuturnya menunjukkan hasil foto rontgen tersebut.

Budi menuturkan, saat kecelakaan maut itu, dirinya sedang menuju ke Balai Latihan Pertanian di Malang. Dia sendirian naik mobil Honda City Z nopol L 1871 GA. Budi mendapatkan tugas mengajarkan perjanjian kerja kepada para TKI yang akan diberangkatkan keluar negeri.

“Saya ada jadwal mengajar jam 12 siang. Saya berangkat dari kantor di Jalan Dukuh Menanggal 124-126 (Surabaya),” ujarnya.

Saat dia melaju di Jl Raya Purwodadi, sebelum pertigaan Nongkojajar, lalu lintas menuju ke Malang lancar. Budi sendiri dapat melaju dengan kecepatan rata-rata sekitar 40 km/jam. Saat itu, persis di depan mobilnya, ada mobil Suzuki Carry. Di depannya lagi, mobil boks dan truk engkel.

Budi menuturkan, dari jarak empat kendaraan itu, dirinya melihat sebuah truk gandeng sedang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Malang. Di depan truk gandeng tersebut, ada antrean kendaraan. Menjelang pertigaan Nongkojajar dari arah Malang, truk gandeng itu mendadak melintasi jalur.

Setelah menabrak beberapa motor dan pejalan kaki, truk gandeng itu menabrak truk engkel di depan mobil Budi. Selanjutnya, truk gandeng tersebut meliuk ke kiri, lalu ke kanan, dan terguling persis di depan mobil Budi.

Setelah terguling, bodi truk gandeng itu meluncur, menabrak moncong mobil Budi. Tak hanya itu, bak gandengannya menimpa kap mobil Budi dari arah kanan, hingga ringsek. “Jadi, mobil (Suzuki) Carry dan mobil boks yang di depan saya selamat,” tuturnya.

Ditambahkan, saat bak truk itu menimpa mobilnya, dia tak sempat keluar lagi dari mobil untuk menyelamatkan diri. Kejadiannya begitu cepat. Lantaran begitu cepat, Budi bahkan tak sempat merasakan apa-apa. Tahu-tahu dia sudah terjepit di ruang kemudi yang ringsek.

“Waktu dher-nya (suara benturan), terasa begitu cepat. Saya seperti tertidur, nggak terasa apa-apa. Karena itu, sampai sekarang, saya jadi nggak trauma (sekalipun nyaris kehilangan nyawa),” ungkap Budi.

Meski terjepit sedemikian rupa, tak sedikit pun ada kucuran darah dari tubuh Budi. Kecuali nyeri di bahu kirinya, Budi juga tak merasakan sakit sedikit pun. Dalam kondisi demikian, dia bahkan sempat menelepon ke kantor dan rumahnya. “Saya pinjam HP dari orang-orang yang menolong saya,” katanya.

Setelah menelepon kantor dan rumahnya untuk mengabarkan bahwa dirinya selamat, Budi juga berusaha keluar sendiri dari jepitan bodi mobilnya yang ringsek. “Saya memang nggak mau ditolong karena bahu saya terasa sakit,” ujarnya.

Budi hanya minta tolong agar orang-orang yang mengerumuninya melepaskan sepatu yang dia kenakan. “Sebab, ternyata, yang terjepit cuma sepatu saya. Begitu sepatu itu dilepas, saya sudah bisa keluar,” beber Budi. Dia akhirnya dapat keluar dari lubang jendela sebelah kanan.

Setelah dapat keluar dari jepitan bodi mobilnya, Budi bahkan mampu berjalan biasa. Sebab, memang tak ada sedikit pun tulang tubuhnya yang patah, retak, atau memar. Orang-orang yang menolongnya pun sampai tercengang-cengang. “Mereka sampai tanya, lho, Anda masih hidup, toh,” ujar Budi, agak geli.

Namun, bukan hanya orang-orang tersebut yang heran. Budi sendiri merasa takjub. Dia sama sekali tak menyangka, umurnya masih dipanjangkan oleh Yang Mahakuasa. “Ya, hanya Allah yang tahu. Allah melindungi saya supaya hidup. Alhamdulillah, Allahu Akbar,” ucapnya berkali-kali.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: